LUAS ILMU FILSAFAT DALAM BERBAGAI ASPEK


 

Filsafat adalah suatu proses yang merupakan memikirkan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai keakar-akarnya. Filsafat adalah pola pikir yang ada dan mungkin ada di dalam pikiran manusia. Di dalam filsafat itu terdapat ruang dan waktu sehingga manusia dapat menggunakan ruang sebagai tempat dan melakukan interaksi antara satu dan yang lainnya.

Manusia bukanlah makhluk hidup yang sempurna karena manusia tidak akan bisa hidup dengan kesempurnaan. Manusia dapat dikatakan manusia itu sempurna dalam ketidaksempurnaan dan tidak sempurna dalam kesempurnaan pula. Selanjutnya awal dari kehidupan manusia ialah memiliki ketetapan fatal dan vital. Fatal adalah suatu kejadian yang terpilih atau takdir (tetap), artinya sesuatu kejadian yang sudah terjadi.

            Setingg-tinggi ilmu dan pikiran (filsafat) tidaklah mampu mengetahui segala seluk beluk hati (spiritual). Sehebat-hebat ucapan, tidaklah mampu mengucapkan semua yang dipikirkan. Sehebat-hebat tulisan, tidaklah mampu menulis semua ucapan. Sehebat-hebat perbuatan, tidaklah mampu melaksanakan semua tulisan. Maka janganlah kita mengandalkan hanya pikiran (filsafat) saja untuk memaknai spiritual (agama), melainkan bahwa gunakan dan jadikan hati kita masing-masing sebagai komandan dalam hidup kita. Sesungguhnya, didalam hati itulah bernaung ilmu spiritualitas kita masing-masing. Agama memiliki kedudukan tertinggi dalam aspek kehidupan manusia. Agama adalah ciptaan allah dan allah adalah jalan kebaikan. Kalau kita ingin selamat, maka berilmu dan berpedomanlah pada agama termasuk dalam berfilsafat. Agama mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Agama mengatur apa yang harus dilakukan seorang manusia dari bangun tidur sampai tidur kembali. Agama mengatur pikiran manusia. Maka ketika kita berfilsafat hendaklah berpatokan pada agama supaya tidak menjadi liar. Dengan melakukan hal tersebut, maka kita bisa mengolah rasa dan karsa, karakter, sikap yang kita ambil apakah sesuai dengan ajaran agama atau tidak. Kalau kita benar dalam berfilsafat berlandaskan agama, maka pendidikan karakter bisa dengan baik dilaksanakan. Filsafat merupakan proses dimana pola pikir kita terhadap suatu permasalahan menjadi lebih terbuka, sehingga jika diiringi dengan ilmu agama makan akan membentuk karakter kita menjadi karakter yang lebih bijaksana, tidak hanya itu tetapi pembentuk karakter yang baik dengan landasan yang baik pula.  

Eksposisi metafisik dari konsepsi ini  sebuah judul buku yang di tulis kant merepresentasikan kepada diri kita objek seperti tanpa kita, dan ini semua di ruang angkasa. Di sini saja bentuk, dimensi, dan hubungannya satu sama lain ditentukan. Indra internal, yang dengannya pikiran merenungkan dirinya sendiri atau keadaan internalnya, memang tidak memberikan intuisi jiwa sebagai objek tentu saja kita tidak dapat memiliki intuisi eksternal, seperti halnya kita dapat memiliki intuisi internal ruang. Lalu apakah ruang dan waktu itu? Apakah mereka nyata?. Pertama-tama memberikan eksposisi tentang konsepsi ruang. Yang saya maksud dengan eksposisi adalah representasi yang jelas, meskipun tidak rinci, dari apa yang termasuk dalam sebuah konsepsi.

Representasi ruang tidak dapat dipinjam dari hubungan fenomena eksternal melalui pengalaman, tetapi sebaliknya, pengalaman eksternal itu sendiri hanya mungkin melalui representasi anteseden tersebut. Ruang adalah representasi yang diperlukan secara apriori, yang berfungsi sebagai fondasi semua intuisi eksternal . Oleh karena itu, ia harus dianggap sebagai kondisi kemungkinan fenomena, dan sama sekali bukan sebagai penentuan yang bergantung padanya, dan merupakan representasi apriori, yang tentu saja menyediakan dasar bagi fenomena eksternal. Ruang bukanlah diskursif, atau seperti yang kita katakan, konsepsi umum tentang hubungan benda-benda. Ruang pada dasarnya adalah satu, dan multiplisitas di dalamnya, akibatnya pengertian umum tentang ruang, tentang ruang satu atau dengan ruang yang lainnya, hanya bergantung pada keterbatasan. Oleh karena itu, intuisi apriori (yang tidak empiris) terletak pada akar dari semua konsepsi kita tentang ruang. Ruang direpresentasikan sebagai kuantitas tertentu yang tidak terbatas.

Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan kemampuan yang harus dibangun bertahap dengan menggunakan benda benda yang mempengaruhi indera kita. Kemudian membandingkan untuk menghubungkan bahan mentah dari pengalaman kita menjadi pengetahuan tentang objek. Kant berpendapat tidak berarti semua pengetahuan muncul dari pengalaman.

Dalam bukunya kant menjelaskan tentang eksposisi dalam upaya untuk membuat eksposisi pandangan sejelas mungkin, dipaksa untuk meninggalkan atau meringkas berbagai bagian yang tidak penting untuk kelengkapan karya, tetapi yang mungkin dianggap banyak pembaca berguna dalam hal lain, dan mungkin berguna tidak mau ketinggalan. Kepada orang-orang yang berhak ini, yang dengan senang hati menggabungkan kedalaman pandangan dengan bakat untuk eksposisi jernih bakat yang diri sendiri tidak sadar dimiliki, meninggalkan tugas untuk menghilangkan ketidakjelasan yang mungkin masih melekat pada pernyataan yang memberikan doktrin. Karena, dalam hal ini, bahayanya bukanlah disangkal, tetapi disalahpahami. Bagi saya sendiri, untuk selanjutnya saya harus menjauhkan atau membatasi diri dari kontroversi yang tidak memiliki jarak dalam kehidupan, meskipun akan memperhatikan dengan cermat semua saran, baik dari teman atau musuh, yang mungkin berguna dalam elaborasi sistem propaedeutic ini di masa mendatang.

Komentar

  1. Sangat bermanfaat, terim kasih ilmunya

    BalasHapus
  2. Terimakasih sangat membantu menjadi refrensi bacaan

    BalasHapus
  3. Ilmunya sangat bermanfaat sekali 🙏🙏🙏

    BalasHapus
  4. Sangat membantu mencari referensi bacaan...tetap semangat 😍😍😍

    BalasHapus

Posting Komentar